Apakah Reformasi masih Relevan?

Apakah Reformasi Masih Relevan?
(Soure: Google and Edited by Adobe)

Tulisan ini disusun oleh ideologi pemikiran kiri, yang memiliki sudut pandang yang tidak mampu “ditoleh” oleh pemerintah. Karena pemikiran kiri menimbulkan energi kritisme yang menyebabkan runtuhnya suatu sistem, dan gejolak yang terjadi memaksa suatu rezim untuk membongkar kedoknya. Tanpa modus apapun, tanpa motivasi apapun, hanya suara rakyat awam yang memiliki sudut pandang kolektif untuk menjungkirbalikkan suatu struktur yang rapi dan persis kokoh mengatur segalanya. Tonggak reformasi bisa ditandai dengan munculnya gejala-gejala pemikir kiri yang menolak mentah-mentah sistem sosial yang disediakan oleh pembuat kebijakan. Ketidak pastian hukum, penyelewengan, dan otoritarian pemerintah pada suatu orde yang bereformasi. Sejatinya hanya siasat belaka yang menyebabkan beberapa pihak saja yang merasakan keuntungan dari reformasi. Maka apakah reformasi yang sejatinya berasal dari kiri yang berumur 20 tahun ini masih menggaungkan cita-cita 1998? Masih relevankah beliau?

Bung Rocky membuka diskusi dengan guyonan berupa sebuah pertanyaan sederhana. “Apakah pertanyaan ‘apakah reformasi masih relevan’ relevan?” pertanyaan ini praktis menyebabkan daya nalar para hadirin untuk aktif kembali. Bahwa urgensi apa yang sebenarnya hendak dirumudkan dan untuk ditinjau ulang. Mengapa hal tersebut penting? Ada banyak alternatif selain pertanyaan tersebut untuk diangkat menjadi sebuah diskusi. Urgensi yang hendak diaktifkan hendaknya berangkat dari sebuah komitmen bersama untuk mengkaji ulang dan membuat siasat strategis. Sampai manakah hal tersebut harus diselesaikan harus memiliki akar permasalahan yang kuat dan kesadaran dalam mendorong penyelesaian.

Menurut Bung Rocky, komitmen untuk mendefinisikan relevansi reformasi adalah permasalahan komitmen. Komitmen kita bisa berarah positif, ataupun negatif. Komitmen positif memiliki strategi tersendiri untuk menyukseskan suatu agenda ideologis yang memang dalam diri kita sendiri setuju untuk mewujudkannya. Namun kali ini komitmen yang diangkat adalah negatif, artinya suatu agena ideologis disinyalir memiliki berbagai macam praktik yang justru dibengkokkan dan kini masyarakat yang tergerak untuk kritis.

Komitmen adalah determinasi, bahwa komitmen mengarahkan tujuan dari suatu arah pemikiran. Komitmen negatif mendeterminasi bahwa agenda reformasi harus dikritisi dan pencarian makna kembali apa itu reformasi.

Reformasi adalah suatu gerakan kolektif yang menghendaki suatu perubahan besar secara singkat. Namun reformasi lebih lembek dari revolusi, karena revolusi berjalan secara setengah-setengah, terdapat ketakutan untuk merombak habis-habisan segala sistem yang ada. Mengkritisi reformasi yang berjalan setengah-setengah artinya mengupas habis komponen-komponen yang ada di dalam reformasi. Menelanjangi hingga semua perbuatan, tingkah laku, dan fakta-fakta lapangan mampu tersaji secara faktual apa adanya. Seperti permasalahan ideologis dalam demokrasi.

Demokrasi berakar dari istilah demos dan kratos. Demos artinya adalah rakyat, sedangkan kratos adalah kekuasaan. Menurut hemat dalam diskusi, reformasi yang terjadi hanyalah apayang terjadi pada kratos saja, yaitu menggulingnya kekuasaan Soeharto atas tuduhan nepotisme. Unsur penting dalam demokrasi yang coba diperkenalkan pada reformasi, yaitu demos sama sekali hilang dan tidak banyak yang memahami esensialnya.

Demos artinya adalah rakyat. Tapi definisi ini tidak hanya sekedar mendefinisikan sebuah gerombolan orang yang ada di suatu negara. Rakyat sama dengan kedaulatan, dimana terminologi ini lahir saat revolusi Perancis. Rakyat dengan seluruh kekuatannya berhasil untuk menjungkirbalikkan kekuasaan feodal. Rakyat memiliki ideologi untuk melahirkan suatu gejolak revolusi yang seluruh pemerintahan dinilai berasal dari kerja rakyat.

Oleh karena itu, berdasarkan komitmen dalam wacana reformasi, apakah sudah sesuai antara cita-cita demokrasi pada reformasi dengan kondisi 20 tahun setelah reformasi? Masih terdapat berbagai macam praktik penyelewengan kekuasaan dan ketidaktertiban negara dalam melaksanakan hukum yang legal. Karena pada jaman Pak Harto, terdapat hegemoni sedemikian rupa yang mengendalikan persepsi masyarakat, bahwa rezim yang berkuasa tidak otoriter. Sama seperti saat ini, Indonesia mewarisi hukum hegemoni tersebut dan meneruskan praktik korupsi.

Ini adalah contoh sebuah sistem yang tidak mempertahankan harga diri. Sistem yang tanpa sadar masyarakat bahwa sudah banyak yang dikelabuhi dan pencarian keuntungan pribadi. Sejak saat itulah masyarakat menjalankan opportunisme (memberikan kesempatan pada penguasa) politik untuk melanjutkan praktiknya. Bisa dibilang masyarakat memiliki mental yang kropos.
Semakin masyarakat menyajikan kesempatan tersebut maka semakin menurunnya daya kritis masyarakat. Dibantu dengan asupan informasi yang disediakan oleh pemerintah untuk mengendalikan segenap segi kehidupan masyarakat. Hilangnya daya kritis, menimbulkan persepsi masyarakat yang bergeser dari ke kiri menuju ke kanan. Makin kokoh pula elektabilitas pemimpin yang mengatur arus korupsi di Indonesia.

Urgensi Revolusi Indonesia
Segala permasalahan tersebut bisa diupayakan sebuah wacana perbaikan pendidikan. Mencontoh platform pendidikan yang ada di Perancis misalnya. Bahwa sistem yang ada di Perancis mampu mengaktifkan sikap solidaritas pada siswa Perancis. Masyarakat Perancis menjadi kokoh secara ideologis, bahwa “rakyat” adalah pengendali negara yang sebenarnya. Nilai-nilai yang ada pada revolusi Perancis benar-benar melekat pada segmen kehidupan sehari-hari. Secara garis besar argumen pemerintahan berasal dari kiri. Kemudian Amerika dengan platform yang terdiri dari kebebasan yang mendahului pendidikan. Hal ini yang dilatarbelakangi oleh kolonialisme di Amerika. Kebebasan (liberty) masyarakat Amerika memberikan kebebasan secara intelektual untuk menjadi apa di saat dewasa nanti. Pada kenyataannya masyarakat paham betul kebutuhan akan pendidikan, meski pendidikan tidak diwajibkan. Dampaknya adalah munculnya daya kritis masyarakat Amerika yang muncul dengan begitu saja.

Indonesia. sebenarnya memiliki sebuah ketertiban dalam mengelola akal masyarakat. saking tertibnya, tidak bisa memunculkan sebuah budaya kritis dalam segala aspek kehidupan. Hanya bisa mengeluh, memprotes, namun tidak tahu bab apa yang sebenarnya harus dikritisi, fundamental apa yang harus diganti atau diperbaiki. Selain itu masyarakat Indonesia cenderung membodohi diri, tidak mencoba mencari jalan keluar yang lain secara kreatif. Menurut masyarakat Indonesia, sistem yang ditegakkan saat ini halal, dan sebaik-baiknya sistem yang ada di Indonesia. Tidak peduli uangnya dikorupsi, dan kejahatan lain-lain secara laten. Sikap ini mendorong mental pengecut, mental yang berlindung dibalik suatu figur yang besar/ kuat. Tidak berani untuk menyuarakan isi hati, mematikan semangat-semangat reformasi.

Solusi
Upaya dalam memperbaiki Indonesia bukanlah jalan pintas yang bisa terjadi hanya pada hitungan hari, tetapi harus terjadi pada hitungan jam! Perlu perbaikan kualitas manusia untuk mendorong gejala umat yang mampu berfikir sesuai porsi. Tidak berdiam diri mengikuti rezim yang hendak mencetak manusia melalui liberasi pendidikan, kependudukan, sampai dengan mematikan nalar manusia yang dimiliki sejak lahir.

Perlu sebuah gejolak untuk menciptakan skema intelektual yang terjadi dalam hitungan detik. Bahwa sebagai manusia, masyarakat Indonesia haruslah skeptis, deterministik, dan serba kurang. Selain itu perlu sebuah pendidikan yang memberikan pengetahuan yang untuk memperkaya khazanah daya berpikir yang bisa mengaktifkan semangat demokrasi.

Demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat. Rakyat yang berkata “penistaan agama” tidak melanggar nilai-nilai demokrasi. Tapi mengapa praktik demokrasi seolah-olah seenaknya sendiri, tergantung kebutuhan pribadi. Rakyat yang memiliki pemikiran sendiri diperbolehkan untuk mengucapkan apa yang diperjuangkannya. Apa yang ingin ditunjukkan melalui emosinya. Bila masyarakat masih memiliki kecenderungan untuk menutupi diri dan mengikuti sistem yang sudah ada, maka hanya akan seenaknya sendiri. Demokrasi bisa dibilang tidak pernah diterapkan di Indonesia.

Perlu adanya revolusi intelektualitas. Bahwasannya intelektualitas menggambarkan ciri-ciri masyarakat yang aktif daya nalarnya. Berpikir untuk meruntuhkan suatu kebiasaan, suatu kearifan yang mengikat semua orang. Tidak memiliki sumbu yang pendek, yang sangat mudah untuk disulut.
Skema intelektual akan menghalangi skema elektabilitas yang tidak akan membiarkan rezim zolim untuk tetap berkuasa. Intelektualitas bisa dibangun melalui pendidikan, dan lagi-lagi pendidikan merupakan produk suatu sistem. Oleh karena itu paradoks yang tidak ada habisnya ini hanya bisa diselesaikan dengan satu jalan keluar yaitu penjungkirbalikkan yang menyeluruh secara cepat. Bahwa terdapat materialistik untuk mendorong sebuah reformasi melalui skema intelektual.
Pesan Untuk Mahasiswa di Indonesia

Perguruan tinggi merupakan sebuah agen akademis yang memunculkan intelektual-intelektual middle ground. Tidak berada di atas, namun juga tidak berada di bawah. Posisi ini sangat strategis untuk memberi kritik secara langsung menuju pemerintahan atau memberi edukasi kepada masyarakat luas. Beban yang begitu besar dimiliki oleh perguruan tinggi untuk sebagai variable ayng mempengaruhi kemana Indonesia akan pergi. Perlu sebuah upaya sadar sivitas untuk membuka mata lebar-lebar dan menyadari pentingnya posisi yang dimilikinya saat ada di Perguruan tinggi.
Universitas sejatinya memiliki sikap radikal. Radikal dalam membuat teori, dalam menguji teori, atau segala macam olahan kajian yang bisa dilakukan sebagaimana mestinya.

Mulai sekarang aktifkan kembali daya nalar sebagai mahasiswa yang radikal. Terus tolak mentah-mentah teori yang begitu saja diberikan oleh dosen. Bautlah sebuah budaya untuk mengkritik, agar terdapat pembiasaan untuk mencari kebenaran yang sejati. Kebiasaan yang dilakukan terus menerus memberikan dampak positif pada karakter seorang mahasiswa. Mahasiswa menjadi pribadi yang arogan dalam memperoleh sumber informasi, dan terbuka wawasannya. (gee)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Artikel Penelitian FIP TH. 2009: Pendidikan Politik Mahasiswa

Geografi: Istimewa Dengan Paradigma

World Class University Ambisi Besar Untuk Pendidikan